Ingin Menjadi Penulis? Yuk Cek Langkah Memulainya
Jauh dari itu, menulis itu soal mendidik diri. Mendidik diri untuk banyak belajar, banyak berpikir dan banyak melatih kemampun.
Menulis membawa kita menemukan hal-hal baru yang bahkan mungkin selama hidup tidak pernah kita alami, ketahui atau kita peroleh.
Ada banyak alasan seorang memilih untuk menjadi seorang penulis, baik itu dorongan lingkungan, pribadi maupun tantangan perkembangan dunia, termasuk pula dorongan pendidikan dan pekerjaan.
Kami pribadi berpandangan bahwa menulis bukan sekedar menyalurkan hobi atau minat bakat saja. Khsusunya bagi seorang yang berpendidikan tinggi, menulis adalah aktivitas wajib yang harus dilakukan. Sebab dari tulisannya, ilmu itu akan disampaikan secara luas dan terbuka kepada banyak orang. Selain itu, bertujuan untuk mengabadikan pikirna-pikiran kritis dan produktif yang dimilikinya selama hidup.
Seseorang memilih untuk berpendidikan sebab ia merasa membutuhkan ilmu pengetahuan dan pengalaman. Nah, ilmu-ilmu tersebut tidak cukup hanya sampai ditahap menerima dan berpikir semata.
Mengaplikasikan atau menyalurkan ilmu pengetahuan dan pengalaman dapat dengan berbagai cara, salah satunya yakni dengan melalui tulisan-tulisan yang disampaikan kepublik.
Pribahasa yang menyebutkan "Menulislah jika ingin dikenal dunia" bukan setakat motivasi kosong belaka. Faktanya, kita dapat mengenal tokoh-tokoh dunia hari ini dari hasil tulisan, baik oleh pelaku itu sendiri maupun orang lain yang menceritakan tentangnya, tentang pergerakannya dan tentang ilmunya.
Tanpa kita sadari, sebait tulisan sangat berpengaruh pada pengembangan karakter dan mental seorang penulis. Disitu nyalinya diuji, ilmunya diuji, pengetahuan dan keterampilannya juga diuji. Siapa yang menguji? Publik.
Kita masih terpaku dan berkutat dengan "bagaimana menulis yang baik". Sedangkan kita tidak pernah mencoba untuk memulai menulis. Padahal, dari memulai menulis itulah kita secara perlahan akan digiring untuk menilai hasil tulisan kita sendiri melalui pandangan orang lain.
Meskipun kami pribadi telah memulai untuk tertarik menulis sejak dibangku SMP, dan memulai menulis secara online melalui laman blog sejak tahun 2017, kemudian memberanikan diri untuk menerbitkan beberapa buku kami, itu tidak cukup untuk menjadikan diri kami sebagai "orang yang jago menulis".
Kita seakan tidak ingin mengakui atau mungkin tidak menyadari bahwa kehidupan kita sehari-hari karena didukung oleh hasil dari tulisan-tulisan orang lain. Sayangnya lagi, kita memilih untuk tidak membaca.
Menulis juga bagian dari kritikan kita terhadap kemampuan diri. Dengan menulis, kita memahami dengan baik apa yang menjadi kekurangan kita.
Ada begitu banyak penulis diluar sana yang menjadi motivator terbaik yang hingga hari ini pesan-pesan dan pikiran mereka selalu dikenang, diucap bahkan dijadikan pedoman hidup.
Buku kami yang baru saja terbit ini, bukan sebagai bukti bahwa kami berhasil menulis. Ini hanya bukti kecil bahwa kami berhasil berpikir.
Nyatanya, tidak mungkin muncul sebuah tulisan tanpa ada yang menulis. Dari situlah perjalanan siapa diri kita dimulai dan dikenal oleh orang lain.
Kita tidak tahu seberapa nikmat donat itu sampai kita memakan dan menelannya. Kita tidak tahu seberapa segar air kelapa itu sampai kita meminum dan menelannya.
Mengapa kita tidak menolak atau mempertanyakan "bagaimana ya rasanya air kelapa, bagaimana ya rasanya kopi, bagaimana ya rasanya teh dan bagaimana ya rasanya nasi?". Kenapa bisa? karena hal-hal ini kita coba sudah dikenal, hadir dan kita nikmati sejak kecil. Sehingga bentuk dan rasanya bahkan namanya saja bukan sesuatu yang asing untuk dilihat, didengar dan dirasakan.
Manusia sudah memulai tulis menulis sejak ribuan tahun yang lalu. Lalu mengapa hari ini kita masih asing dengan tulis menulis?
Beberapa sebab diantaranya yakni kita masih beranggapan bahwa menulis harus menjadikan tulisan tersebut sebuah buku. Bahwa menulis harus selalu dipublikasi. Menulis harus ada legalitas/lembaga, tim, ISBN. Bahwa menulis harus memiliki keahlian khusus dan istimewa. Padahal, menulis hanya butuh "Alat Tulis". Disisi lain, untuk meningkatkan keterampilan menulis, dapat kita ikuti berbagai tips menulis.
Berangkat dari pengalaman kami menerbitkan buku pertama kali di penerbit @deepublish, penuh dengan keraguan, tidak pede, dan serba takut. takut dicemooh, takut ditolak dan takut-takut lainnya.
Namun kami tersentak dengan satu pesan emak bahwa "Tidak ada satupun didunia ini yang dapat mencekal pikiran seseorang pikirannya itu sendiri". dari situ, dengan segala resiko tetap kami layangkan naskah buku yang ingin kami terbitkan. Padahal, naskah tersebut sebelumnya pernah ditolak oleh beberapa penerbit besar di Indonesia.
Setelah buku kami pertama yang berujudul "Tabir: Rahasia Waktu" itu terbit, rasa percaya diri kami semakin tinggi. Belum lagi dorongan motivasi dari lingkungan yang memutuskan kami untuk terus menulis.
Pengalaman ini pula yang mendorong kami untuk terus dapat menerbitkan buku. Hingga akhirnya buku-buku yang lain sudah menyusul dan diterbitkan diantaranya buku kedua kami "Benah: Berpikir Seadanya Untuk Memulai Hidup Sederhana" dan buku ketiga kami "Sentimen Maritim: Kepri 2045" yang pada buku ketiga ini kami menulis bersama dengan seorang sahabat kami.
Pesan kami untuk diri kami dan untuk kita semua, khususnya kaum muda di Indonesia, menulis tidak akan menjadikan diri kita rugi atas ilmu, pengetahuan dan pengalaman yang kita miliki.
Jangan-jangan, pikiran, ilmu, pengetahuan dan pengalaman kita selama ini yang kita pendamam, yang tidak kita publikasi/kita tulis dan tidak kita sampaikan kepada publik, adalah nilai yang sebenarnya dapat merubah sesuatu diluar sana.
#Salam Literasi
#Pesan Emak
