Ampas Kopi Sebagai Potensi dan Alternatif Ekonomi Sirkular, Kreatif dan Terbarukan



PESANEMAK- Ngopi diwarung kopi sudah menjadi trend masa kini yang hampir tidak bisa dilepaskan dari berbagai aktivitas masyarakat.

Pola sosial ini mampu merubah wajah kedai kopi yang awalnya hanya sekedar untuk ngopi, kini menjadi lokasi pilihan sebagai tempat diskusi, rapat, tempat berkumpulnya masyarakat termasuk pula mahasiswa dan orang-orang perkantoran bahkan dijadikan sebagai tempat kumpul pemain game online.
 
Ada begitu banyak kedai kopi yang berjejer disepanjang jalan Tanjungpinang dan Bintan. Setiap langkah, dapat dengan mudah kita temui kedai-kedai kopi. Tanpa disadari banyak pemilik warung kopi, setiap hari mereka membuang begitu saja "Emas Hitam".

Nah sadarkah kita, selain produk minuman kopi yang terbukti berhasil mendorong perekonomian masyarakat, ada potensi ekonomi lain yang selama ini kita abaikan. Apakah itu? Iya adalah ampas kopi.

Ya, kita tidak salah baca. Ampas kopi yang selama ini dianggap hanya sampah dan limbah organik, memiliki potensi ekonomi yang tinggi dan alternatif jika dapat dimanfaatkan dengan baik.

Selama ini, ampas kopi dibuang begitu saja baik ditong sampah bahkan dibuang kelaut. Padahal, meski organik ampas kopi hasil dari racikan atau rebusan setiap warung kopi, jika dibuang sembarangan justru dapat menimbulkan pencemaran lingkungan. 

Misalnya dari ampas kopi yang lembab yang terbungkus atau tertumpuk, menghasilkan bau yang kurang sedap. Dan bahkan dapat memunculkan belatung. Belum lagi jika dibuang tertumpuk dilaut.

Banyangin aja, jika di Tanjungpinang dan Bintan misalnya terdapat 100 warung kopi, dan setiap warung kopi perharinya menghasilkan 2 kg ampas kopi, maka dalam satu hari terdapat 200 kg ampas kopi yang terlantar, dibuang dan menjadi sampah.

Melihat begitu banyaknya ampas kopi yang berserakan, kami melihat ada sisi lain dari ampas kopi ini yang tidak termanfaatkan.

Tahun 2022, kami mengambil peluang untuk mencoba memanfaatkan ampas kopi melalui pengolahan limbah organik/limbah tidak berbahaya.

Setelah mempelajari tentang ampas kopi, kami melihat karakteristik ampas kopi yang organik, mengandung minyak, asam dan beberapa kandungan lainnya, ampas kopi ternyata dapat dijadikan sebagai arang briket ampas kopi. 

Melalui berbagai percobaan dan formula, briket ampas kopi memang memiliki tantangan tersendiri dalam tahapan prosesnya jika kita bandingkan dengan pembuatan briket dari batok kelapa. 

Batok kelapa cenderung lebih mudah untuk diolah sebagai arang. Kandungan air yang lebih sedikit, minyak yang tinggi dan bahan yang mudah terbakar.

Berbeda dengan ampas kopi, sifatnya yang lembab yang mengandung cukup banyak air, untuk memperoleh bahan dasar siap olah (pembakaran), jika pengeringan memanfaatkan sinar mata hari maka harus melalui penjemuran beberapa hari sampai benar-benar kering. Dan ini bisa lebih lama jika cuaca tidak mendukung.

Proses pengeringan ini dapat lebih cepat jika menggunakan tungku api atau oven. Dan ini terus berlanjut pada tahapan selanjutnya hingga pencampuran bahan-bahan pembuatan briket ampas kopi.

Terlepas dari beberapa tahapan proses pengolahan ampas kopi hingga barang jadi tersebut, yang ingin kami sampaikan adalah bahwa ampas kopi yang dipandang sebelah mata, ternyata dapat mendukung pelaksanaan ekonomi biru karena mengurangi sampah dilaut, ekonomi sirkular dan ekonomi baru yang sangat ramah lingkungan, ekonomi mandiri dan ekonomi kreatif.

Dalam lima kilo ampas kopi, dapat dihasilkan briket dengan ukuran 2,5 cm hingga seratus lebih arang briket ampas kopi.

Kami sudah pernah memulai dan membuktikan ini 3 tahun yang lalu bahwa ampas kopi adalah "emas hitam" yang terabaikan yang padahal jika dikelola dengan tepat dapat menjadi salah satu alternatif pertumbuhan ekonomi sirkular, ekonomi baru dan bahkan ekonomi biru. Lebih dasyat dari itu, mengurangi pencemaran lingkungan.

Meski masih diperlukan pengamatan dan percobaan lebih lanjut untuk menemukan formula yang lebih baik dan tepat, namun pada poinnya adalah ampas kopi bukan sekedar limbah biasa.

Orang-orang diluar sana sudah semakin "menggila" dengan barang-barang sisa/bekas yang terbuang begitu saja untuk diolah, dimanfaatkan dan dapat menghasilkan cuan.

Selain itu, ampas kopi juga dapat dijadikan sebagai bahan serapan karbon. Sistem kerja ini hampir sama dengan sistem kerja penyaringan air dan asap.

Emisi gas rumah kaca yang berlebihan, memungkinkan diserap oleh ampas kopi. Tentunya hal ini perlu pula melalui riset yang lebih mendalam. 

Bagaimana menurut kalian, menarik bukan ampas kopi ini? Kira-kira bisa dibikin apa lagi ji ampas kopi?

Kira-kira barang apa lagi yang dianggap sampah/limbah yang sebenarnya dapat membangkitkan prekonomian Masyarakat? Yuk berbagi pengalaman.

_Pesan Emak_