Mulai Menulis Buku, AI Teman Berdiskusi bukan Pengganti Pikiran Manusia


PESANEMAK- Banyak orang memiliki pengalaman, pengetahuan, atau gagasan yang sebenarnya sangat berharga untuk dibagikan. Namun, tidak sedikit yang mengurungkan niat menulis karena merasa belum cukup mampu, takut tulisannya tidak bagus, atau tidak tahu harus memulai dari mana.

Padahal, setiap penulis pernah berada di titik yang sama, yakni berhadapan dengan halaman kosong dan sebuah gagasan yang belum tahu harus dituangkan ke dalam kalimat seperti apa.

Menulis buku bukan hanya tentang kemampuan merangkai kata. Menulis adalah tentang keberanian untuk menuangkan pikiran, pengalaman, pengetahuan, dan sudut pandang yang kita miliki. Karena itu, jangan terlalu cepat menganggap diri sendiri tidak mampu menulis.

Di tengah perkembangan teknologi saat ini, kita bahkan memiliki teman baru dalam proses tersebut, Artificial Intelligence (AI).

AI dapat membantu kita berdiskusi, mengembangkan pertanyaan, mencari sudut pandang alternatif, menyusun kerangka, maupun menemukan bagian tulisan yang masih perlu diperbaiki.

Tetapi ada satu hal yang penting untuk dipahami bahwa AI bukan tempat untuk "copy-paste". Jangan jadikan AI sebagai mesin yang menggantikan seluruh proses berpikir kita.

Jika semua tulisan hanya dibuat dengan meminta AI menulis, kemudian hasilnya langsung disalin dan ditempel, mungkin kita memang mendapatkan sebuah tulisan. Tetapi kita kehilangan sesuatu yang jauh lebih penting yakni proses berpikir dan suara kita sendiri.

Anda bisa memanfaatkan AI untuk berdiskusi, bukan untuk menyerahkan pikiran. Gunakan AI untuk bertanya, bukan untuk berhenti berpikir. Gunakan AI untuk mengembangkan gagasan, bukan untuk menggantikan kreativitas.

Sebab, sesungguhnya Anda memiliki sesuatu yang jauh lebih berharga daripada sekadar kemampuan menghasilkan teks.

Anda memiliki pengalaman yang tidak dimiliki orang lain. Anda memiliki cara melihat persoalan yang berbeda. Anda memiliki ingatan, perasaan, kreativitas, intuisi, dan pengetahuan yang terbentuk dari perjalanan hidup Anda sendiri. Dan semua itu adalah bahan utama sebuah karya.

Berikut beberapa tips untuk memulai menulis buku, nomor 10 sangat penting bagi Anda:

Mulailah dari Ide yang Anda Kuasai

Langkah pertama adalah menentukan topik yang benar-benar Anda pahami atau minati. Anda tidak harus menjadi profesor, peneliti terkenal, atau seorang pakar untuk menulis buku.

Misalnya pengalaman bekerja, penelitian, hobi, perjalanan hidup, pengalaman organisasi, maupun keahlian yang Anda miliki dapat menjadi sumber tulisan yang bernilai.

Bahkan, sesuatu yang bagi Anda terlihat sederhana mungkin sangat berarti bagi orang lain. Jika masih bingung, Anda dapat mengajak AI berdiskusi. Ceritakan gagasan yang ada di kepala Anda dan biarkan AI membantu mengajukan pertanyaan.

Misalnya:

“Saya memiliki pengalaman seperti ini. Menurutmu, pertanyaan apa yang sebaiknya saya jawab agar pengalaman tersebut dapat dikembangkan menjadi sebuah buku?”

Perhatikan perbedaannya. Anda tidak meminta AI membuatkan buku. Anda meminta AI membantu Anda menggali apa yang sebenarnya Anda miliki. Di situlah AI menjadi teman diskusi yang berguna.

Tentukan Tujuan Penulisan

Sebelum mulai menulis, tanyakan kepada diri sendiri apa tujuan saya menulis buku ini? Siapa pembacanya? Masalah apa yang ingin saya bahas? Pengetahuan atau pengalaman apa yang ingin saya bagikan? dan Pesan apa yang ingin saya tinggalkan?

Anda juga dapat menggunakan AI untuk menguji pertanyaan-pertanyaan tersebut. Mintalah AI memberikan pertanyaan kritis terhadap gagasan Anda. Tanyakan bagian mana yang masih terlalu umum, argumen mana yang perlu diperkuat, atau sudut pandang apa yang mungkin belum Anda pertimbangkan.

Namun, keputusan akhirnya tetap berada di tangan Anda. Karena AI tidak menjalani kehidupan Anda. AI tidak mengalami apa yang Anda alami. AI tidak berada di tempat ketika pengalaman itu terjadi. Andalah yang memiliki cerita tersebut.

Susun Kerangka Buku

Salah satu kesalahan yang sering dilakukan penulis pemula adalah langsung menulis tanpa memiliki gambaran mengenai arah keseluruhan buku. Buatlah daftar isi sederhana yang memuat bab dan subbab. 

Jika kesulitan menyusunnya, Anda dapat berdiskusi dengan AI mengenai kemungkinan struktur pembahasan. Setelah mendapatkan beberapa alternatif, jangan langsung mengambilnya mentah-mentah.

Baca kembali, pikirkan, ubah dan tambahkan pengalaman Anda. anda juga dapat menggantikan/menghaspus/menghilangkan bagian yang tidak sesuai.

Jadikan kerangka tersebut milik Anda sendiri. Anggap AI seperti teman yang membantu meletakkan beberapa keping puzzle di atas meja. Anda tetap orang yang menentukan gambar akhirnya.

Tulis dengan Pikiran Anda Sendiri

Tidak perlu menunggu waktu luang yang panjang. Luangkan 30-60 menit setiap hari untuk menulis. Bahkan beberapa paragraf sehari tetap lebih baik daripada menunggu inspirasi yang tidak kunjung datang.

Ketika mengalami kebuntuan, jangan langsung berkata, “AI, tolong tuliskan untuk saya.”

Cobalah bertanya:

“Saya ingin menjelaskan gagasan ini, tetapi saya kesulitan menemukan sudut pandangnya. Apa saja pertanyaan yang bisa membantu saya berpikir lebih dalam?”

Pertanyaan seperti itu akan membuat Anda tetap menjadi pengemudi dalam proses menulis. AI membantu membuka jalan. Anda yang menentukan ke mana perjalanan itu pergi. 

Dan jika setelah berdiskusi dengan AI Anda menemukan sebuah gagasan baru, jangan takut mengembangkannya dengan bahasa Anda sendiri. Jangan mengejar tulisan yang terdengar seperti AI. Bangunlah tulisan yang terdengar seperti Anda.

Jangan Jadikan Copy-Paste sebagai Cara Menulis

Kemudahan teknologi terkadang membuat kita lupa bahwa menulis sebenarnya adalah proses berpikir.

Meminta AI membuat tulisan, kemudian menyalinnya seluruhnya tanpa membaca, memahami, memeriksa, atau mengembangkannya bukanlah cara terbaik untuk membangun kemampuan menulis.

Sebaliknya, jadikan hasil percakapan dengan AI sebagai bahan mentah untuk dipikirkan kembali. Kita harus tetap membaca, mengkritisi, memeriksa kebenarannya dan membandingkan dengan beberapa sumber lain.

Jika anda sudah merasa sudah mendapatkan keabsahan yang tepat, tambahkan pengalaman Anda dan data yang Anda miliki.

Tambahkan pendapat Anda dan kembangkan berdasarkan pemikrian Anda. Kemudian tuliskan kembali dengan gaya Anda sendiri. Ingat, gaya Anda sendiri. 

Penting untuk disampikan, AI bukan menjadi penulis, melainkan menjadi teman yang membantu Anda menemukan penulis di dalam diri Anda sendiri.

Jangan Merasa Kalah dari AI

Ada satu hal yang sering terlupakan ketika membicarakan kecerdasan buatan. Jangan sampai kemajuan AI membuat Anda merasa bahwa manusia sudah tidak memiliki keunggulan.

Justru sebaliknya, percayalah bahwa Anda memiliki kecerdasan yang berharga. AI dapat mengolah informasi dalam jumlah besar dan menghasilkan teks dalam waktu singkat. Tetapi nilai sebuah karya tidak hanya ditentukan oleh seberapa cepat sebuah tulisan dapat dibuat.

Ada pengalaman manusia di dalamnya, ada keberanian mengambil keputusan, kreativitas, imajinasi, kepekaan membaca keadaan, kemampuan memahami konteks, nilai-nilai yang terbentuk dari perjalanan hidup dan ada cerita yang hanya Anda yang pernah mengalaminya.

Itulah yang membuat tulisan manusia memiliki nilai. Jadi, jangan minder ketika berhadapan dengan AI ya. Anda tidak sedang bersaing dengan AI.

Anda sedang menggunakan teknologi untuk membantu mengeluarkan kemampuan terbaik yang sebenarnya sudah ada di dalam diri Anda.

Bahkan, bisa jadi AI justru membantu Anda menyadari bahwa Anda memiliki jauh lebih banyak ide daripada yang selama ini Anda kira.

Revisi dan Pertahankan Suara Anda

Naskah pertama hampir tidak pernah sempurna. Setelah selesai menulis, bacalah kembali. Perbaiki struktur kalimat, ejaan, tata bahasa, alur pembahasan, dan bagian-bagian yang masih membingungkan. AI dapat membantu menjadi pembaca pertama yang kritis.

Anda dapat bertanya:

“Bagian mana dari tulisan saya yang masih sulit dipahami?” atau: “Apakah ada argumen yang perlu saya jelaskan lebih lanjut?”

Namun jangan biarkan AI menghapus karakter tulisan Anda. Tidak semua kalimat harus dibuat sempurna secara teknis dan tidak semua tulisan harus terdengar seperti buku akademik.

Terkadang, kalimat sederhana yang lahir dari pengalaman pribadi justru memiliki kekuatan yang lebih besar. Jadi tetap pertahankan suara Anda, cara Anda bercerita dan pengalaman Anda.

Karena pembaca tidak hanya mencari informasi. Mereka juga mencari manusia di balik tulisan tersebut.

Lengkapi dengan Desain yang Menarik

Setelah isi selesai, pikirkan pula bagaimana pembaca akan menikmati buku tersebut. Sampul yang menarik, tata letak yang rapi, pemilihan tipografi, ukuran huruf, dan penyusunan halaman yang nyaman akan memberikan pengalaman membaca yang lebih baik.

Teknologi, termasuk AI, dapat membantu mengeksplorasi berbagai kemungkinan desain. Tetapi sekali lagi, gunakan sebagai alat bantu. Identitas buku tetap harus mencerminkan isi dan karakter penulisnya.

Pilih Penerbit yang Tepat

Setelah naskah selesai, tahap berikutnya adalah menerbitkan karya melalui penerbit yang profesional dan terpercaya.

Penerbit yang baik tidak hanya mencetak buku. Penerbit juga dapat membantu melalui proses penyuntingan, desain sampul, tata letak, produksi, publikasi, hingga distribusi.

Bagi penulis pemula, pendampingan tersebut dapat membantu mengubah naskah yang masih sederhana menjadi sebuah buku yang siap dibaca oleh masyarakat.

Karena pada akhirnya, menulis buku bukan hanya tentang menghasilkan sebuah naskah. Ini tentang membawa sebuah gagasan keluar dari kepala kita dan mempertemukannya dengan pembaca.

Pikiran Anda Lebih Berharga dari Sekadar Sebuah Prompt

Teknologi akan terus berkembang. AI mungkin akan menjadi semakin cepat, semakin cerdas, dan semakin mampu menghasilkan berbagai bentuk tulisan.

Tetapi jangan biarkan perkembangan itu membuat Anda berhenti percaya pada diri sendiri. Anda bukan sekadar orang yang memberikan perintah kepada AI.

Anda adalah pemilik pengalaman. Anda adalah pemilik cerita. Anda adalah pemilik gagasan dan Anda memiliki kreativitas yang terbentuk dari perjalanan hidup yang tidak bisa persis dimiliki oleh orang lain. Karena itu, jangan datang kepada AI hanya dengan pertanyaan:

“Tolong buatkan tulisan untuk saya.”

Cobalah datang dengan pertanyaan:

“Saya punya gagasan. Mari kita diskusikan.”

Dari sana, mungkin Anda akan menemukan bahwa ternyata Anda tidak kekurangan ide. Anda hanya membutuhkan seseorang atau sesuatu yang membantu Anda mengajukan pertanyaan yang tepat.

Dan jika AI dapat menjadi teman diskusi yang membantu Anda berpikir lebih jauh, gunakanlah. Tetapi ketika tiba saatnya menulis, ambil kembali pena Anda.

Biarkan pengalaman Anda berbicara. Biarkan kreativitas Anda bekerja. Biarkan kecerdasan Anda berkembang. Dan biarkan pembaca mengenal Anda, bukan sekadar mengenal apa yang bisa dihasilkan oleh sebuah mesin.

Berawal dari Langkah Pertama Jangan menunggu tulisan menjadi sempurna untuk mulai menulis. Mulailah dari satu ide, satu halaman dan berdiskusilah ketika buntu.

Coba beranikan diri untuk revisi ketika menemukan kekurangan. Belajar ketika menemukan kesalahan dan teruslah menulis.

Karena buku-buku yang bermakna tidak selalu lahir dari orang yang merasa dirinya paling pintar. Buku lahir dari orang yang berani mengatakan “Saya punya sesuatu untuk dibagikan.”

Maka, jangan takut memulai dan jangan merasa kalah dari teknologi. Dan tidak kalah penting, jangan pernah menganggap gagasan Anda tidak berharga.

AI bisa membantu Anda berpikir lebih jauh. Tetapi hanya Anda yang bisa memberikan jiwa kepada tulisan Anda sendiri.

| Pesan Emak